Tampilkan postingan dengan label investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label investasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2014

Modal Rp 200 Ribu Bisa Investasi Saham, 1 Lot Saham Hanya 100 Lembar!

Ingin memulai perencanaan investasi? Sejak 6 Januari 2014 lalu, Bursa Efek Indonesia merilis kebijakan berupa perubahan ukuran lot saham. Jumlah lot saham yang tadinya 500 saham per lot menjadi 100 saham per lot saja.

Tujuan perubahan ini adalah untuk meningkatkan likuiditas pasar modal Indonesia. Dengan penurunan ini, maka dana yang diperlukan untuk memmulai investasi saham lebih sedikit, sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah investor domestik.

Saat ini, kebanyakan sekuritas tidak lagi mematok jumlah yang besar untuk membuka akun. Transaksi saham memang bisa dimulai hanya dengan setoran awal Rp 200.000 hingga Rp 5.000.000 saja untuk pembukaan akun. Tetapi, untuk mulai membeli saham, apakah jumlah itu cukup memadai?

Rabu, 08 Januari 2014

10 Rahasia Sukses Jadi Miliader

Seseorang yang dibilang sukses identik dengan kekayaan yang berlimpah, termasuk jumlah tabungan dan harta benda yang dimiliki. Di Indonesia, banyak sekali miliarder yang seperti ini. Mereka pun sering menjadi bintang iklan atau bintang tamu acara televisi, dan memberikan tips sukses mereka. Berikut beberapa rahasia sukses para miliarder yang dilansir dari Business Insider.

1. Hidup susah
Banyak sekali kisah tentang miliarder yang mengawali karirnya sebagai cleaning service atau bahkan office boy. Ini menandakan bahwa kesuksesan memang selalu datang dari usaha yang keras dari nol. Tidak ada orang yang tiba-tiba berhasil tanpa melalui proses jatuh bangun terlebih dahulu. Howard Schultz, pendiri Starbucks, adalah salah satu miliarder dunia yang memulai semua usahanya dari nol.

Minggu, 08 Desember 2013

Mulailah Evaluasi Keuangan Anda



“Until you can show that you can handle what you’ve got, you won’t get any more. The habit of managing your money is more important than the amount.”
Salam readers,

Saya sangat menyukai quote yang saya peroleh ketika belajar mengenai “money personality” beberapa tahun silam. Saya percaya, yang kita dapatkan di dunia ini akan disesuaikan dengan kapasitas diri kita. Saat ingin dapat lebih besar, sudahkah menjadi wadah yang juga lebih besar dibandingkan sebelumnya?

Sebagai ilustrasi, anak kita yang berusia lima tahun merengek minta es krim cone (bukan gelas) yang terdiri atas tiga scoops dengan rasa berbeda. Karena sayang, kita mengabulkan. Belum tuntas disantap, es krim terjatuh. Anak menangis minta gantinya.

Sadar akan kurangnya kemampuan dan kapasitas anak dalam memegang dan memakan es krim cone 3 tumpuk, apakah Anda akan membelikan yang sama atau menggantinya dengan ukuran lebih kecil sesuai kapasitasnya?

Sama halnya dengan uang. Saya percaya Tuhan mencukupkan atau melebihkan rezeki seseorang berdasarkan kapasitas yang dimilikinya. Sang Pemberi rezeki tidak akan menambah rezeki hingga yakin kita mampu menangani, mengelola, dan bertanggung jawab terhadap yang sudah ada.

Karena itulah, saat ingin mengubah kondisi finansial, Anda harus bisa mengevaluasi perilaku terhadap uang. Ingat, dalam mengelola uang, 80 persennya terkait dengan tingkah laku kita terhadap uang selama ini. Coba tengok, apa yang mesti diperbaiki dari kebiasaan terhadap uang.

Untuk mengevaluasi kondisi keuangan, mulailah dengan arus kas. Cek, pengeluaran selama ini, lebih banyak untuk kebutuhan atau keinginan. Kondisi rasio pengeluaran bulanan terhadap pendapatan juga perlu dievaluasi. Jika di bawah 70 persen, itu pertanda kondisi keuangan yang sehat.

Kemudian, perlu juga mengecek porsi tabungan dan investasi serta kondisi harta dibandingkan utang yang Anda miliki. Rasio berinvestasi terhadap total pendapatan sebaiknya di atas 15 persen. Di saat bersamaan, Anda pun harus bisa menjaga rasio utang terhadap total pendapatan yang harus di bawah 35 persen setiap bulan.

Pemeriksaan aset. Perlu diperiksa, apakah jumlah tabungan dana cadangan sudah mencapai 3-6 bulan pengeluaran?

Anda juga perlu mengevaluasi kinerja portofolio investasi guna mengetahui nilai aset bersih (real asset) saat ini dibanding awal tahun. Sebaiknya konsisten dengan jangka waktu tujuan finansial Anda. Simpan baik-baik hasrat ingin mencairkan.

Tak kalah pentingnya, periksa ulang tujuan finansial Anda. Dalam berbagai aspek, tujuan dalam kehidupan mengalami perubahan seiring perjalanan waktu.

Miliki jejak buku pencapaian tujuan Anda, seberapa banyak waktu tersisa. Hal ini terkait dengan perlu atau tidak melakukan penyesuaian porsi instrumen investasi berdasarkan risikonya.

Evaluasi merupakan langkah awal saat kita hendak membuat resolusi baru. Apakah kebiasaan terhadap sekarang patut dipertahankan atau perlu kebiasaan baru guna memperbaiki kondisi Anda.

Ingat, melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda hanya ilusi! Lakukan hal yang sama terus-menerus maka hasil yang Anda dapatkan akan selalu sama.

Have fun(d)!

To serenity



Dwita Ariani, MM, RFA, RIFA

Twitter: @BundaWita
Financial educator dari Zelts Consulting

Selasa, 14 Mei 2013

Masalahnya Ada Pada Waktu

Tantangan tentunya selalu ada. Kalau tak ada tantangan pastilah semua orang sudah meniru system eksponensial ini untuk menciptakan kekayaan. Dan kalau demikian adanya, tentunya semua orang di dunia ini kaya semua. Betul kan? Pada kenyataannya, memang ada dua tantangan pada system kumulasi itu – dan tantangn-tantangan itu kebanyakan kita memang merupakan TANTANGAN-TANTANGAN YANG UTAMA.

Yang pertama adalah kalau kita ingin mengivestasikan uang kita, tentu saja kita harus memiliki uang ekstra. Yakni, sisa uang yang kita miliki setelah kita membayarkan semua kewajiban kita! Hanya sayang jarang orang memiliki uang ekstra seperti itu.

Seperti yang dikatakan oleh seorang pelawak, “Kebanyakan dari kita merasa bahwa BULAN ITU LEBIH PANJANG daripada UANG BULANAN yang kita terima!” Rata-rata orang sudah cukup bahagia kalau sudah bisa menyisihkan $100 sebulan atau $1,200 setahun. Jumlah yang tidak terlalu banyak!

Yang kedua adalah kalau kita mengivestasikan uang kita melalui kumulasi, waktunya bisa sangat panjang! Kita memerlukan waktu tujuh tahun agar uang kita yang $1,000 menjadi $2,000. Itu pun dengan syarat kalau kita investasikan dalam bursa saham dengan bunga sebersar 10% per tahun. Karenanya, konsep penggandaan ini tidak terlalu menarik, kalau kita hanya memiliki beberapa ratus atau bahkan beberapa ribu dolar saja untukdiinvestasikan.

Jujur saja kebanyakan orang lebih suka hidup biasa-biasa saja daripada berusaha kaya melalui system kumulasi. Namun, berkat adanya system Network Marketing,kini tercipta sejenis system usaha waralaba yangmemungkinkan Anda untuk meniciptakan kekayaan dan juga kebebasan secara eksponensial. Hanya dalam hitungan bulan atau pun tahun! Tidak perlu menunggu sampai puluhan tahun!


Jawabannya Ada Pada Sistemnya

Karena sistem Network Marketing ini bisa diduplikasikan, maka sistem ini merupakan sistem peniruan yang luar biasa untuk menciptakan kekayaan.

Sistem ini merupakan konsep waralaba yang terjangkau harganya dan menggunakan konsep waralaba, sehingga menjamin Anda sukses. Untuk bisa berhasil dalam Network Marketing, Anda tidak perlu memiliki bakat sebagai bintang, seperti Tom Cruise atau pun Whitney Houston. Anda pun tidak perlu dilahirkan sebagai seorang jenius, seperti halnya Albert Einstein atau pun Bill Gates.

Berbeda dari industri hiburan, Network Marketing ini tidak mengandalkan syarat harus seorang bintang.

Sistem ini diperuntukkan bagi orang-orang biasa-biasa saja, yang ingin mendapatkan penghasilan yang LUAR BIASA, dengan jalan meniru sistem yang sudah terbukti keberhasilnanya. Lalu mereka ini mengajari orang-orang lainnya untuk mengikuti hal yang sama. (Karena itulah Network Marketing sering disebut bisnis bagi “orang biasa-biasa yang bepenghasilan luar biasa”)

Berbeda pula dengan usaha waralaba, di mana Anda harus mengeluarkan uang ratusan ribu dolar untuk memulainya, dalam Network Marketing ini Anda hanya perlu menginvestasikan beberapa ratus dolar saja untuk memulainya! Karena itulah beberapa ahli mengatakan Network Marketing ini merupakan “waralaba rakyat” dan lantaran itu pula saya pribadi menyebutnya sebagai “waralaba alternative”.


Jumat, 03 Mei 2013

Robert Kiyosaki: Mengagumi MLM

Robert Kiyosaki, penulis buku bestseller The Cashflow Quadrant dan Bussines School, pernah ditanya mengapa dia merekomendasikan orang lain masuk ke bisnis network marketing padahal dia belum pernah sukses di bisnis ini. Jawabannya? Robert menceritakan pengalamannya di awal 1990-an saat di bertemu dengan temannya, seorang pengusaha real estate yang sukses. Pengusaha yang sangat dihormati oleh

Robert ini di luar dugaan masuk ke bisnis network marketing. Ketika Robert bertanya mengapa Bill, temannya ini, masuk ke bisnis ini. Apa jawaban Bill? Bill menjawab: "Kamu tahu aku suka cari uang, tetapi aku tidak masuk ke bisnis ini karena aku butuh uang. Keuanganku sangat bagus."

Robert tahu Bill baru saja menyelesaikan proyek real estate bernilai lebih dari satu miliar dolar dalam dua tahun terakhir, jadi pasti keadaan keuangannya sangat baik. Tapi hal ini justru membuat Robert makin penasaran, "Jadi kenapa kamu masuk ke bisnis jaringan?" tanya Robert.

Bill menjawab: "Selama bertahun-tahun, orang meminta saran investasi real estate kepadaku. Banyak orang yang ingin tahu apakah mereka boleh berinvestasi bersamaku. Masalahnya, sebagian besar dari mereka tidak bisa berinvestasi bersamakau karena mereka tidak cukup uang yang memenuhi syarat investasiku."

Salah satu hal positip dari industri network marketing adalah bisnis ini memberikan kesuksesan dalam berbagai aspek. Bukan hanya dalam segi keuangan, menurut Robert Kiyosaki, salah satu nilai terpenting yang ditemukan dalam bisnis ini adalah pendidikan bisnis yang mengubah hidup.

Beberapa di antaranya adalah program pengembangan kepemimpinan terbaik di dunia yang tak ternilai harganya. Selain itu, jenis penghasilan yang diberikan oleh bisnis network marketing adalah penghasilan pasif, sehingga mereka yang sukses akan memiliki kebebasan dari segi waktu.

//** efek salju-start**// //** efek salju-end**// //** Like Button FB **//
//** Like Button FB **//