Perkembangan teknologi komunikasi, terutama berbasis internet, telah mendorong laju perekonomian. Sebab lewat dunia maya, kini banyak orang yang berlomba-lomba menjajakan bisnisnya. Baik berupa jasa maupun barang. Pada 2013 saja, bisnis online telah meraup pemasukan sekitar Rp 5,1 triliun.
Mudahnya bertransaksi lewat internet pun membuat jumlah pemain di pasar ini kian meningkat. Hingga persaingan semakin ketat. Lantas apa yang harus Anda lakukan agar bisnis online tetap berjalan sukses?
Menurut praktisi bisnis online Tasya Mustika Putri (24), kunci agar usaha Anda berjalan sukses adalah kemampuan meraih kepercayaan konsumen. Sebab dalam bisnis online, pembeli tak dapat berinteraksi langsung dengan penjual. Pun tak bisa melihat atau menyentuh barang yang Anda tawarkan. Karena itu, tampilan situs serta layanan yang Anda berikan harus mampu meyakinkan dan memuaskan pelanggan.
Selanjutnya *
Tampilkan postingan dengan label Online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Online. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Oktober 2014
Kiat Sukses di Bisnis Online
Label:
bisnis,
dunia maya,
internet,
kepercayaan,
ketat,
Kiat,
komunikasi,
memuaskan,
meyakinkan,
Online,
perekonimian,
persaingan,
sukses,
Tasya Mustika Putri,
teknologi
Sabtu, 18 Januari 2014
Sabtu, 14 Desember 2013
Dahsyat! Omzet Belanja Online Rp 150 Triliun
Jakarta - Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta, memperkirakan omzet retail online tahun ini bakal menyentuh angka Rp 150 triliun.
"Pada 2009, omzet retail modern mencapai Rp 70 triliun, dan tahun 2012 sudah menjadi Rp 135 triliun. Tahun ini kemungkinan sampai Rp 150 triliun," katanya kepada Tempo, Kamis, 12 Desember.
Berdasarkan data Aprindo, pertumbuhan rata-rata retail modern mencapai 17 persen per tahun, sementara retail konvensional hanya tumbuh 10 persen per tahun. Bahkan, retail modern juga berkontribusi 38 persen terhadap total penjualan retail nasional.
Menurut Tutum, saat ini konsumen semakin ingin mendapatkan kemudahan dalam berbelanja. "Masyarakat sudah begitu sibuk. Waktu semakin singkat karena jalanan macet. Hal inilah yang membuat retail online tumbuh pesat,” katanya.
Adapun survei Master Card pada triwulan I 2013 menunjukkan, Indonesia merupakan pembelanja online terbesar. Sekitar 54,5 persen responden asal Indonesia menggunakan telepon seluler pintar mereka untuk berbelanja online. Posisi Indonesia diikuti Cina (54,1 persen) dan Thailand (51 persen responden).
Sebelumnya, hasil survei Nielsen Indonesia pada triwulan III 2013 menunjukkan, indeks kepercayaan konsumen Indonesia mencapai 199 poin. Angka ini merupakan yang tertinggi di dunia. Responden juga menunjukkan peningkatan kepercayaan terhadap produk yang diiklankan dan dijual secara online. "Krisis ekonomi global ternyata tidak menyurutkan keyakinan konsumen Indonesia akan kondisi keuangan mereka," kata Managing Director Nielsen Indonesia Catherine Eddy.
Menurut Catherine, barang-barang yang meningkatkan gaya hidup dan kenyamanan, seperti peralatan elektronik, teknologi, dan perabot tahan lama, akan banyak terserap pasar. "Kemampuan produsen untuk memberikan kenyamanan dengan tetap memperhitungkan harga yang terjangkau akan jadi kunci untuk meraih konsumen kelas menengah Indonesia," tuturnya. Sumber *
"Pada 2009, omzet retail modern mencapai Rp 70 triliun, dan tahun 2012 sudah menjadi Rp 135 triliun. Tahun ini kemungkinan sampai Rp 150 triliun," katanya kepada Tempo, Kamis, 12 Desember.
Berdasarkan data Aprindo, pertumbuhan rata-rata retail modern mencapai 17 persen per tahun, sementara retail konvensional hanya tumbuh 10 persen per tahun. Bahkan, retail modern juga berkontribusi 38 persen terhadap total penjualan retail nasional.
Menurut Tutum, saat ini konsumen semakin ingin mendapatkan kemudahan dalam berbelanja. "Masyarakat sudah begitu sibuk. Waktu semakin singkat karena jalanan macet. Hal inilah yang membuat retail online tumbuh pesat,” katanya.
Adapun survei Master Card pada triwulan I 2013 menunjukkan, Indonesia merupakan pembelanja online terbesar. Sekitar 54,5 persen responden asal Indonesia menggunakan telepon seluler pintar mereka untuk berbelanja online. Posisi Indonesia diikuti Cina (54,1 persen) dan Thailand (51 persen responden).
Sebelumnya, hasil survei Nielsen Indonesia pada triwulan III 2013 menunjukkan, indeks kepercayaan konsumen Indonesia mencapai 199 poin. Angka ini merupakan yang tertinggi di dunia. Responden juga menunjukkan peningkatan kepercayaan terhadap produk yang diiklankan dan dijual secara online. "Krisis ekonomi global ternyata tidak menyurutkan keyakinan konsumen Indonesia akan kondisi keuangan mereka," kata Managing Director Nielsen Indonesia Catherine Eddy.
Menurut Catherine, barang-barang yang meningkatkan gaya hidup dan kenyamanan, seperti peralatan elektronik, teknologi, dan perabot tahan lama, akan banyak terserap pasar. "Kemampuan produsen untuk memberikan kenyamanan dengan tetap memperhitungkan harga yang terjangkau akan jadi kunci untuk meraih konsumen kelas menengah Indonesia," tuturnya. Sumber *
Label:
17 persen per tahun,
Aprindo,
belanja,
Catherine Eddy,
dahsyat,
Master Card,
Nielsen Indonesia,
omzet,
Online,
Rp 150 Triliun,
telepon seluler,
Tutum Rahanta
Langganan:
Postingan (Atom)
